Dunia saat ini terbagi menjadi dua
bagian, yakni negara maju dan negara berkembang, negara maju lebih mapan dari
sisi politik, ekonomi, budaya dan sosialnya, sedangkan negara berkembang masih
dalam masa transisi menuju good
governance dalam berbagai
hal. Di negara maju sistem pemerintahan yang digunakan adalah sistem yang
demokratis sehingga menimbulkan perekonomian yang liberal, budaya yang makin
terbuka satu dan lainnya serta kebebasan bagi tiap-tiap individu untuk menentukan
haknya.
Seperti
yang di ungkapkan oleh Robert Dahl, keunggulan demokrasi diantaranya:
1.
demokrasi membantu mencegah tumbuhnya pemerintahan kaum otokrat yang
kejam dan licik,
2.
demokrasi menjamin bagi warga negaranya sejumlah hak asasi yang tidak
diberikan dan tidak dapat diberikan oleh sistem-sistem yang tidak demokratis,
3.
demokrasi menjamin kebebasan pribadi yang lebih luas bagi warga
negaranya,
4.
pemerintah demokratis yang dapat membantu perkembangan kadar persamaan
politik yang relative tinggi,
5.
negara-negara dengan pemerintahan demokratis cenderung lebih makmur
daripada negara-negara dengan pemerintahan yang tidak demokratis.
Berbeda dengan negara berkembang
yang masih dalam tahap transisi menuju sistem pemerintahan yang ideal contohnya
seperti negara berkembang tersukses yakni Brazil, Rusia, India, China. Dalam
hal ini keempat negara maju selaras dalam demokrasi dan ekonomi pembangunan
negara, kecuali China.
Dua Puluh Tahun yang lalu, sebuah
tragedi kemanusiaan terjadi di negeri China. Puluhan ribu mahasiswa yang
menuntut demokratisasi di lapangan Tiananmen ditindak represif, sejumlah tank
pasukan Tentara Merah menggilas mereka, ribuan mahasiswa tewas, ribuan mahasiswa
ditangkap ke penjara, ratusan lainnya hilang entah ke mana. Sampai sekarang
para aktivis mahasiswa masih ada yang berada di penjara dan mereka yang
berhasil melarikan diri terus memperjuangkan demokrasi di negeri itu.
Peristiwa Tiananmen yang terjadi
pada 4 Juni 1989 adalah sejarah kelam pemerintahan komunis China setelah
Revolusi Kebudayaan. Meskipun sudah dua puluh tahun berlalu, dosa sejarah ini
sepertinya terus membayangi. Seminggu menjelang tanggal 4 Juni, pemerintah
China selalu sibuk mengamankan lapangan Tiananmen, pasukan Tentara Merah dalam
posisi siaga berjaga-jaga di sekitar lapangan itu. Siapa pun yang mempersoalkan
kembali tragedi berdarah itu ditindak. Para wisatawan yang mengambil gambar
juga dipaksa untuk menghapus dari kameranya. Seorang fotografer dari Assosiated
Press sempat ditangkap ketika mengambil gambar di lokasi pembantaian mahasiswa
itu.
Namun bersamaan dengan peningkatan
kemajuan ekonomi yang rata-rata tumbuh 10 persen sejak 1980-an, China menjadi
super power baru yang secara geopolitik berpotensi menjadi ancaman
negara-negara industri maju. Tak heran, Barat gencar melancarkan propaganda
agar China mempromosikan demokrasi dan HAM sebagai bagian agenda pembangunan,
yang kini menjadi arus-utama percaturan global.
Namun, China bergeming, teguh
menempuh jalan politik sendiri yang lebih cocok dengan kebutuhan domestik.
China tidak serta-merta mengadopsi ide-ide demokrasi dan HAM yang disuarakan
Barat karena sarat kepentingan politik-ekonomi, selain mengandung bias ideologis-dominasi
dan hegemoni. Isu demokrasi dan HAM sekadar kamuflase untuk menyembunyikan
kepentingan ekonomi Barat atas negara berkembang, seperti diingatkan Joel
Rocamora (2002). Adapun persoalan Cina ini akan dibahas dalam studi kasus.
Kembali ke Demokrasi yang merupakan
sistem yang dianggap ideal oleh sejumlah besar negara untuk model suatu
pemerintahan yang baik, dalam mengaitkan berbagai macam elemen-elemen suatu
negara yang demokrasi, (seperti, adanya partai politik, pemilu, serta kebebasan
individu dan kelompok). Di dalam sebuah negara yang demokrasi segala macam
kegiatan yang berkaitan dengan kekuasaan sepenuhnya berada di tangan rakyat,
rakyatlah yang memiliki kewenangan sepenuhnya untuk mengontrol, memilih dan
menjalankan suatu demokratisasi negara. Pemimpin yang berkuasa tidak lepas dari
kontrol rakyat yang di representatifkan melalui sebuah lembaga legislatif.
Dampak dari sistem negara yang
demokrasi dapat berimbas ke berbagai macam hal, seperti politik, budaya,
ekonomi, sosial, hukum, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, pemakalah
memfokuskan pembahasan mengenai demokrasi pembangunan ekonomi negara. Ekonomi
suatu negara bergantung terhadap kebijakan yang diambil oleh pihak pemerintah
yang memimpin dan ideologi suatu negara.
Telah menjadi perdebatan dikalangan
ilmuwan politik dan ilmuwan ekonomi mengenai pandangan dan kesimpulan demokrasi
dan pertumbuhan ekonomi. Ada ilmuwan yang meyakini demokrasi dapat mendorong
dan berpengaruh signifikan pada pertumbuhan ekonomi, sebagian lagi menyatakan
keduanya tidak ada hubungan kausalitas, namun ada juga yang berpendapat
demokrasi bersifat indirect impact terhadap pertumbuhan ekonomi.
No comments:
Post a Comment