1.
Ciri-ciri kawasan Timur
Tengah yaitu:
a) Kawasan
Timur Tengah terbagi menjadi 3 himpunan negara Arab yaitu Republik Inti Arab
(Mesir, Irak, Suriah), Republik Arab Pinggiran
(Libia. Lebanon, Yaman) dan Monarki Arab (Saudi Arab, Kuwait, Yordan,
Oman, Qatar, Bahrain, Emirat Arab, Tunisia. Politik luar negeri Republik Inti
Arab memepengaruhi peta politik yang menentukan timur tengah. Dan di Republik
Arab Pinngiran krisis yang berdasarkan atas nama demokrasi tidak menentukan
timur tengah.
b) Timur
Tengah adalah rumah bagi banyak orang yang berbeda dengan berbagai bahasa,
agama, dan tradisi. Arab (orang yang bahasa Arab) adalah kelompok mayoritas di
negara-negara Timur Tengah tetapi Timur Tengah juga rumah bagi kelompok lainnya
seperti Iran, Turki dan Kurdi. Agama-agama besar di Timur Tengah yaitu Islam, Kristen
dan Yahudi dengan bahasa yang berbeda seperti: Arab, Turki, Ibrani, Kurdi dan
Persia.
c) Di
kawasan Timur Tengah adanya kota-kota suci seperti Mekah, Madinah, Yerusalem
(Al-Quds) , Karbala dan Qom. Kawasan timur tengah merupakan kawasan tempat
lahirnya 3 agama besar: yahudi, Kristen dan islam. Mayoritas penduduk yang
menganut agama islam sekitar
90-93%, sedangkan 6=9% menganut agama Kristen, dan 1,5 % menganut
yahudi.
d) Di
dunia Barat, Timur Tengah umumnya dianggap sebagai sebuah komunitas Arab
mayoritas beragama Islam yang didefinisikan oleh perang sering meskipun
kriteria tersebut tidak akan diterapkan ke semua negara di kawasan.
Kelompok-kelompok etnis di wilayah mungkin termasuk Afrika, Arab, orang-orang
Asyur, Armenia, Azerbaijan, Berber, Babel, Druze, Yunani, orang Yahudi, Kurdi,
Maronit, Persia, Tajik dan Turki. Kelompok-kelompok bahasa utama termasuk:
bahasa Arab, Persia, Turki, Kurdish, Azeri, Armenia, Asiria (juga dikenal
sebagai bahasa Aram, Syria), Urdu (Timur Tengah lebih besar) dan Ibrani. Adjektif
sesuai adalah Timur Tengah dan benda turunan adalah tengah-timur.
e) Negara
Timur Tengah memiliki sejumlah mengatur sistem, termasuk tradisional Nusantara,
Republik otokratis, dan semi Serikat otoriter yang memungkinkan untuk beberapa
derajat pluralisme politik. Sebagai akibatnya, Timur Tengah tetap menjadi salah
satu daerah yang paling sulit di dunia untuk memajukan demokrasi. Godaan untuk
merangkul nasihat untuk kebijakan luar negeri realisme dan strategi
keseimbangan kekuasaan riil politik yang akan fokus lebih pada menjamin
stabilitas dan kurang pada pemerintah demokratis kinerja dan hak asasi manusia
praktik mungkin kuat. Gagasan bahwa Amerika Serikat harus memilih antara
mencapai stabilitas atau mempromosikan demokrasi dan kebebasan di Timur Tengah
adalah salah satu yang palsu, dan pemerintahan baru memiliki kesempatan yang
efektif untuk bergerak di luar itu.
f) Kawasan
Timur Tengah terkenal dengan cadangan minyak bumi yang melimpah
2. Bentuk
pemerintahan pemerintahan republik dan monarki mempunyai perbedaan pada kepala
negaranya, yaitu: dikatakan monarki jika kepada negaranya berdasarkan turun
menurun dan republik jika kepala negaranya dipilih bukan berdasarkan keturunan.
Sistem
politik Arab Republik dibedakan menjadi
yaitu:
a) Republik
Absolut, pemerintahan bersifat diktator tanpa ada batasan kekuasaan. Penguasa
mengabaikan konstitusi dan untuk melegitimasi kekuasaanya digunakanlah partai
politik. Dalam pemerintahan ini parlemen memang ada namun tidak berfungsi.
Adapun bentuk Arab
Monarki ini yaitu:
a) Monarki
Absolut, adalah bentuk pemerintahan dalam suatu negara yang dikepalai oleh
seorang raja, ratu, syah atau kaisar yang kekuasaan dan wewenangnya tidak
terbatas. Perintah raja merupakan hokum dan undang-undang yang harus dipatuhi
dan dilaksanakan oleh rakyatnya. Pada diri raja terdapat kekuasaan eksekutif,
legislative dan yudikatif yang menyatu dalam ucapan dan perbuaannya. Dalam hal
politik, system monarki absolute mempunyai kekuasaan mutlak dalam pengambilan
keputusan. Dimana partisipasi politik telah sangat dibatasi. Meskipun Barat
telah masuk dalam kehidupan Arab Saudi, aturan politik monarki tetap merupakan
titik penting dari legitimasi dan stabilitas bagi rezim dalam kerajaan.
Meskipun pengambilan keputusan tetap dibantu oleh dewan konsultatif dan Dewan
Menteri tetapi dalam prakteknya kewenangan raja tidak mungkin terbantahkan.
Tetapi dalam sistem ini bukan berarti tidak ada demokrasi sama sekali, untuk
Raja dan Pemerintahan juga harus mempertimbangkan banyak opini publik.
b) Monarki
Konstitutional, adalah bentuk pemerintahan dalam suatu negara yang dikepalai
oleh seorang raja yang kekuasaanya dibatasi oleh undang-undang dasar (konstitusi).
Proses monarki konstitutional yang pertama adalah adakalannya proses monarki
itu datang dari inisiatif raja itu sendiri, karena ia takut kekuasaanya akan
runtuh atau dikudeta, Yang kedua yaitu adakalanya prpses monarki konstitutional
itu terjadi karena adanya revolusi rakyat terhadap rajanya.
c) Monarki
Parlementer, adalah bentuk pemerintahan dalam suatu negara yang dikepalai oleh
seorang raja dengan menempatkan parlemen sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.
Jatuh tegaknya pemerintah bergantung pada kepercayaan parlemen kepada para
menteri. Dalam monarki parlementer kekuasaan eksekutif dipegang oleh kabinet
(perdana menteri) dan bertanggung jawab kepada parlemen. Fungsi raja hanya
sebagai kepala negara (simbol kekuasaan) yang kedudukannya tidak dapat diganggu
gugat. Raja tidak memegang pemerintahan secara nyata, tetapi para menteri yang
bertanggung jawab atas nama dewan maupun sendiri-sendiri sesuai tugas
masing-masing.
3. Kawasan
Timur Tengah sarat dengan konflik yang seolah-olah tidak pernah kering karena:
a) Kawasan
Timur Tengah secara geografis memiliki letak sangat strategis dimana menjadi
pertemuan dari tiga benua yaitu Eropa, Asia, Afrika. 60 % dari pasokan minyak
dunia berasal dari Timur Tengah bahkan
70 % dari kebutuhan minyak di kawasan Eropa berasal dari wilayah ini. Kawasan
Timur Tengah merupakan wilayah yang memiliki arti strategis penting tidak hanya
bagi negara-negara yang terletak di wilayah tersebut tetapi juga negara-negara
yang erletak di luar wilayah, dalam hal ini adalah negara-negara barat seperti
Amerika Serikat dan Inggris.2 Arti strategis wilayah Timur Tengah seringkali
memiliki kaitan erat dengan persoalan sumber energi seperti minyak dan gas.
Faktor ini dapat dikatakan sebagai komponen penting geopolitik Timur Tengah
modern. Berlimpahnya sumber daya energi di kawasan ini mengundang berbagai
kepentingan negara-negara eks kekuatan imperial dan negara superpower. Dengan
demikian, berbicara mengenai permasalahan-permasalahan Timur Tengah juga
berbicara mengenai kepentingan-kepentingan tidak hanya negar-anegara di wilayah
tersebut, tetapi juga negara di luar wilayah Timur Tengah.
b) Konflik
Timur Tengah sarat dengan kepentingan barat. Konflik demi konflik melanda
sebagian besar negara-negara di Timur Tengah khususnya yang mempunyai cadangan
minyak mentah dalam jumlah besar. Ini ditengarai akibat tindakan-tindakan tidak
mendasar negara barat. Sistem pemerintahan di sana tidak mengekang keterbukaan,
HAM, dan demokrasi bagi masyarakatnya. Kalau secara umum sebetulnya tidak
termasuk Libya. Sesungguhnya dari sisi ekonomi Khadafi sudah melakukan banyak
perbaikan-perbaikan begitu juga untuk aspirasi-aspirasi. Khadafi sudah mencoba
untuk memperbaiki itu dengan bertahap. Mungkin, sebelum-sebelumnya pengekangan
itu terjadi, tetapi belakangan Khadafi sudah mulai terbuka. Tetapi bagaimanapun
juga pasti ada saja orang-orang yang tidak puas. Mereka ini merasa masih ada
tekanan-tekanan, sehingga mereka inilah yang mencoba untuk bangkit. Informasi
yang saya peroleh, di sana itu tidak ada partai oposisi. Kalau ada konflik
hanya lebih mengarah pada masalah suku.
Di satu sisi ada upaya
masyarakat setempat untuk menuntut perbaikan. Itu sejalan dengan semangat yang
ada di negara-negara lainnya dalam hal mendapatkan keterbukaan, arus demokrasi,
dan HAM. Sekarang juga kita bisa melihat bahwa ini tidak selamanya murni dari
masyarakat, tetapi ada campur tangan pihak-pihak yang bekepentingan ikut di
dalamnya.
Seperti contoh kejadian
di Irak sebelumnya, yang pada akhirnya Irak diporak-porandakan dengan alasan
senjata pemusnah massal. Ironisnya, ternyata tidak ditemukan dan bahkan
belakangan Amerika juga sudah mengakui bahwa tidak ada senjata itu. Hanya saja
kejadian itu bertemu dengan keinginan sebagian rakyat Irak yang menuntut
demokrasi. Jadi, soal campur tangan negara-negara barat tak lepas dari
kepentingan-kepentingan ekonomi minyak mereka. Misalnya, kalau Khadafi yang
tetap berkuasa mungkin saja negara-negara barat merasa kesulitan sehingga
mereka bernafsu untuk menurunkan Khadafi dan menaikkan orang-orang yang mereka
mampu kendalikan dan bekerja untuk kepentingan mereka.
Negara-negara barat
yang dimotori Amerika Serikat dalam melancarkan serangan ke Libya untuk
membantu warga-warga yang masih merasa terkekang agar bisa bangkit mendapatkan
hal-hal yang diinginkan. Dan kita lihat tindakan itu berlebihan. Kalau memang
negara-negara barat ingin membantu masyarakat, harusnya dari awal mereka masuk
dan mencoba untuk melakukan negosiasi. Sebab, dengan penyerangan membuat banyak
korban jatuh dan infrastruktur rusak. Ini menandakan bahwa serangan Amerika dan
sekutunya itu sarat kepentingan, dan saya kira semua orang tahu itu. Alasan
membela rakyat, saya kira itu hanya sebagai tameng saja untuk memuluskan
rencana mereka. Ini yang kita sangat sayangkan.
c) Adanyak
konspirasi AS. Intelijen - AS selaku konsumen utama minyak Timur Tengah
tentunya berkepentingan dengan kondisi Timur Tengah, sehingga mau tidak mau
harus ikut campur di masalah demokratisasi di kawasan Timur Tengah untuk
menjaga kepentingannya. Setidaknya AS memiliki dua kepentingan besar di kawasan
Timur Tengah, yaitu pasokan minyak dan mengamankan berdirinya Israel sebagai
negara utuh. Dua hal tersebut tidak bisa ditawar-tawar lagi.Hal ini dapat
dilihat dari rentang waktu AS yang mulai berkoar tentang penegakan demokrasi di
Mesir, lalu merembet ke negara lainnya di kawasan Timur Tengah di tengah
melambungnya harga minyak dunia.
Namun untuk mendukung
dua rencana besar itu, tentunya ada syarat yang wajib dipenuhi, yakni adanya
keseimbangan kekuasaan baru di Timur Tengah. Sebab kondisi Timur Tengah sebelum konflik terjadi tidak membuat AS
bebas menancapkan pengaruhnya, khususnya adanya perlawanan dari Iran. Menurut
sumber INTELIJEN, keterlibatan AS di konflik Timur Tengah dilakukan dengan cara
menyusupkan agen intelijennya dibeberapa organisasi pergerakan, termasuk di
kelompok Islam garis keras.
Informasi ini diperoleh
dari kejadian penyerangan personel kedutaan besar Rusia oleh petugas keamanan
Qatar, sepulangnya dari pulang dari Suriah, yang konon didalangi CIA dan MI6 yang
mengincar tas diplomat Rusia yang berisikan anggota Al-Qaeda didikan CIA. Kabarnya,
anggota Al-Qaeda didikan AS tersebut, adalah agen yang disusupkan CIA ke Libya
untuk menggulingkan Khadafi dan menimbulkan kekacauan di Suriah untuk
mengobarkan perlawanan terhadap Assad.
Tidak lama dari
kejadian penyerangan terhadap diplomat Rusia oleh personel keamanan Qatar,
pecah konflik Libya dan kekacauan di Suriah. Di Libya, saat Qatar sedang
diskenariokan sebagai pusat negara-negara Arab, Inggris dan Perancis yang
merupakan anggota NATO diutus untuk menangani peperangan (setidaknya perang di
media) oleh Washington.
Sedangkan di Suriah, AS
menyerahkan kampanye demokratisasi kepada Perancis, Jerman dan Turki, sambil
menskenariokan agar Qatar, Arab Saudi dan Yordania menjadi pemain sentral di
masa depan di kawasan Timur Tengah. Untuk melancarkan rencananya, AS juga
menggerakan Angkatan Darat Suriah ke perbatasan Suriah-Turki. Sementara itu,
disaat bersamaan, NATO menerobos wilayah udara Suriah dari Pangkalan Udara
Incirlik dekat provinsi Adana, dengan tujuan menempatkan peralatan mata-mata. Disebarnya
alat mata-mata dan agen ini bertujuan untuk mengawasi Lebanon dan Iran. Di
Lebanon sendiri banyak terdapat mata-mata Israel dan AS, yang menerima perintah
langsung dari Kedutaan Besar AS di Beirut.
Contoh lain keterlibatan AS dalam
menyeting konflik Timur Tengah adalah konflik Mesir. Di negara yang terkenal
dengan Piramida Giza-nya, AS berperan besar di belakang layar agar militer
Mesir tidak menembaki demonstran yang turun ke jalanan. Hal itu dimungkinkan
karena Paman Sam memang dikenal dekat dengan militer Mesir. Tidak hanya masalah
minyak dan Israel, kepentingan AS di kawasan Timur Tengah adalah untuk menjual
persenjataan dan pelatihan militer. Semua kepentingan itu dibungkus dengan
kedok meningkatkan hubungan kerjasama dan membangun demokrasi.
Akan tetapi, tujuan utama dari
kerjasama militer dan penjualan senjata itu adalah untuk mendukung rezim
berkuasa yang didukung AS. Adanya konflik yang timbul akibat semangat demokrasi,
kelompok-kelompok yang ada di negara-negara Timur Tengah yang berhasil
menumbangkan rezim otoriternya tentu akan merebutkan kekuasaan, yakni kelompok
Islam seperti Ikhwanul Muslimin dan kelompok liberalis yang mendapat dukungan
dari AS. Hal ini memaksa kelompok Islam garis keras yang menentang AS, untuk
mengakui dan menerima kehadiran AS di negaranya. Karena jika memaksakan
kehendaknya, maka yang terjadi adalah konflik berkelanjutan yang berakibat pada
perpecahan negara.
4. Rencana
Zionis terhadap Kawasan Timur Tengah:
a) "Zionisme"
berasal dari "Sion," (diucapkan "Tzyion" dalam bahasa
Ibrani) sebuah bukit di Yerusalem. Kata berarti "penanda" atau
peringatan. "Shivath Tzion" adalah salah satu persyaratan tradisional
untuk kembali di pengasingan Yahudi. Menurut M. Amien Rais, isu untuk kembali
ke tanah Palestina, menimbulkan dua kelompok di kalangan Yahudi, yaitu Zionisme
Politik dan Zionisme Kultural/Spiritual. Zionisme Politik diwakili oleh Herzl,
Moshe Lilienblum, Leo Pinsker, Chaim Weizmann, Jabotinsky, Menachem Begin,
Moshe Dayan, dan Yitzhak Shamir. Sedangkan, kalangan Zionisme Kultural yang
menentang ide itu diwakili oleh Ahad Ha-am, Judas Magnes, Martin Buber, Hans
Kohn dan fisikawan Albert Einstein.
Metode mengambilan
tanah Palestina menurut kelompok pertama adalah dengan tiga cara. Pertama,
wilayah tersebut harus direbut dari tangan orang-orang Arab. Caranya adalah
dengan memperoleh tanah seluas mungkin di Palestina. Kedua, penduduk Arab harus
diusir dari tanah airnya ke negara-negara Arab.[14] Sensus Inggris pada 1922
mencatat ada 660.641 orang Arab dan 83.790 orang Yahudi di Palestina. Untuk
membalik ini, maka seperti juga menurut ZA. Maulani, yaitu dengan “Yahudinisasi
Palestina” dan imigrasi besar-besaran ke Palestina. Ketiga, dengan menteror
secara sistematik. Fungsi ini dipahami oleh para tokoh Zionis sebagai cara
paling gampang dan murah untuk menghabisi nyali Bangsa Palestina.
Sedangkan kelompok
kedua yang menentang pandangan diatas, memiliki tiga alasan. Pertama, sangat
immoral bila kaum Yahudi mendesak dan mengusir bangsa Palestina yang notabene
tanah itu adalah tanah air sah Palestina. Kedua, bila Zionisme menekankan hak
historis bangsa Yahudi untuk kembali ke Palestina, maka bangsa Arab Palestina
pun punya hak historis yang harus dihormati. Ketiga, pemecahan adil bagi
konflik Israel-Palestina adalah dengan mendidikan sebuah bi-national state,
yaitu negara dengan dwi-kebangsaan tempat orang Yahudi dan Arab hidup
berdampingan secara damai.
Hal yang terpenting
ialah disepakati bahwa Zionisme merupakan suatu gerakan yang bertujuan
mendirikan ''perumahan'' bagi bangsa Yahudi di Palestina melalui jalan hukum.
Untuk itu dirumuskan empat tujuan pokok sebagai berikut: Pertama, memajukan
tanah Palestina dengan hasil karya petani, seniman, dan pedagang Yahudi. Kedua,
mengorganisasikan dan mempersatukan semua bangsa Yahudi dengan berbagai cara
yang tepat sesuai dengan kondisi lokal dan sesuai dengan aturan umum yang
berlaku di masing-masing negara. Ketiga, memperkuat rasa kebangsaan dan rasa
kesadaran nasional Yahudi. Keempat, mempersiapkan berbagai tindakan dalam upaya
mendapatkan izin pemerintah yang diperlukan bagi dicapainya tujuan Zionisme.
Saat ini gerakan
zionisme bukan lagi berkutat pada ranah keagamaan, akan tetapi telah beralih ke
makna politik. Maksudnya adalah “Suatu gerakan pulangnya ‘diaspora’
(terbuangnya) kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali bersatu
sebagai sebuah bangsa dengan Palestina sebagai tanah air bangsa Yahudi, dengan
Jerusalem sebagai ibukota negaranya.”
b) Zionis
adalah bagian besar dari hegemoni barat untuk mengontrol Timur Tengah.
"Mengapa Zionis Israel ada di Timur
tengah? Tentu untuk mendapatkan kontrol atas minyak, pemberontakan dan revolusioner di Timur Tengah.
5. Peta
politik Timur Tengah:
Revolusi
yang melanda negara-negara Timur Tengah berimplikasi pada berubahnya peta
politik di kawasan tersebut. Dimulai dari rezim Ben Ali di Tunisia yang telah
berkuasa selama 23 tahun, lalu disusul dengan tumbangnya Husni Mubarok di Mesir
yang telah berkuasa selama kurang lebih 33 tahun. Kemudian revolusi merambah ke Libya dan berhasil
meruntuhkan rezim Khadafi yang telah berkuasa selama 33 tahun. Hingga akhirnya
gelombang revolusi dapat melengserkan rezim Ali Abdullah Saleh di Yaman.
Bahkan, angin revolusi tersebut disinyalir akan berhembus lebih kencang lagi
sampai menerpa Suriah, Jordania dan Bahrain. Berbagai media massa menyebut
fenomena tersebut sebagai sebuah gelombang demokratisasi baru yang pernah
melanda dunia. Sejak revolusi Tunisia yang menumbangkan Presiden Ben Ali,
kemudian Mesir hingga jatuhnya neo-Firaun, Husni Mubarak, pada Jumat 10
Februari 2011, selanjutnya beresonansi ke sejumlah negara-negara Timur Tengah
lainnya, seperti Libya, Yaman, Bahrain, Suriah, dan Arab Saudi, geopolitik
semenanjung Arabia ini berubah total.
Bahkan,
Israel dibuat panik hingga PM Benjamin Netanyahu harus mondar-mandir ke Gedung
Putih guna membahas revolusi negara-negara petrodinar ini. Membaca perjalanan
politik Timur Tengah, terdapat tiga faktor yang mewarnai peta politik kawasan
ini; penguasa, dominasi negara, dan gerakan civil society.
Menelusuri
sejarah politik Timur Tengah dihadapkan pada ensiklopedi para pemimpin yang
berkuasa lama dan otoriter. Gaya otoriter tersebut sebetulnya didukung karena
tampuk kepemimpinan yang mereka peroleh dengan kudeta, hingga melahirkan sikap
paranoid terhadap isu-isu keamanan negara, seperti kasus Husni Mubarak di
Mesir, Muamar Qadafi di Libya, Ali Abdullah Saleh di Yaman, dan Abdul Aziz ibn
Sa'ud raja pertama Arab Saudi.
Yang
menarik, Husni Mubarak selama periode kepemimpinannya tidak memiliki seorang
wakil presiden. Dialah satu-satunya presiden di dunia yang tidak mengambil
seorang wapres. Boleh jadi, Mubarak khawatir sejarah para pendahulunya yang
tewas lalu digantikan oleh wakilnya, seperti Wapres Gamal Abdul Naser yang jadi
pemimpin Mesir menggantikan presiden yang tewas ketika itu. Begitu pula Wapres
Anwar Sadat yang naik menjadi presiden menggantikan Gamal Abdul Naser yang
tewas.
Keruntuhan
para tiran di timur Tengah ini ditunjukkan dengan berhasilnya digelar pemilu
perdana di Tunisia. Tunisia merupakan negara pertama yang menyelenggarakan
pemilu pasca revolusi. Hasil akhir perhitungan suara menunjukkan partai
An-Nahdhah memperoleh suara signifikan dengan meraih 89 kursi dari 217 kursi
yang diperebutkan mengungguli partai lainnya seperti Partai Kongres (CPR) yang
memperoleh 29 kursi dan Ar-Ridha Asy-Sya’biyyah dengan 26 kursi. An-Nahdhah
merupakan partai berasaskan Islam yang didirikan oleh Rashid Al-Ghannushi pada
tahun 1981 terinspirasi oleh gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan
Al-Banna pada tahun 1928. Disamping itu agenda politik partai An-Nahdhah yang
sesuai dengan agenda revolusi Tunisia dalam memberantas korupsi dan pemulihan
krisis ekonomi menjadikan partai ini banyak dipilih rakyat selain daripada
coraknya yang Islami namun moderat. Aksi
massa dan kerusuhan di beberapa negara kawasan Timur Tengah telah berhasil
meruntuhkan para tiran yang telah berkuasa cukup lama
Mesir
pun menggelar pemilu yang diselenggarakan sejak 28 November 2011. Hasil akhir
pemilu untuk memilih majelis rendah (Majlis Asy-Sya’biyyah yang diumumkan
Komisi Pemilu Mesir pada 21 Januari 2012 menunjukkan kemenangan partai-partai
Islam. Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) yang merupakan representasi dari
Ikhwanul Muslimin memperoleh 235 kursi atau 47,18 persen. Partai An-Nur dari
kalangan Salafi memperoleh 121 kursi. Sedangkan partai Al-Wafd yang berhaluan
liberal hanya memperoleh 42 kursi. Sementara partai aliansi Mesir meraih
sekitar 33 kursi. Keberhasilan FJP tersebut merupakan yang pertama kali dalam
sejarah politik mesir sejak gerakan Ikhwanul Muslimin dilarang terjun dalam
kancah politik. Dengan kemenangan tersebut FJP pun mempunyai peluang untuk
menggolkan Khairat As-Satir, tokoh yang diusungnya sebagai presiden Mesir pada
Pemilu presiden bulan Mei.
Situasi
ini dinilai salah satu faktor mulai berkembangnya demokrasi di kawasan
tersebut. Revolusi yang melanda Timur Tengah telah merubah peta politik di
kawasan tersebut. Banyak partai-partai islam muncul sebagai kekuatan baru di
pentas politik regional. Partai-partai Islam seperti An-Nahdhah di Tunisia,
Partai Kebebasan dan Keadilan yang merupakan representasi dari Ikhwanul
Muslimin Mesir secara signifikan meraih suara pada pemilu yang diselenggarakan
tahun 2011 lalu. Meskipun ada beberapa negara seperti Libya, Suriah, Bahrain,
dan Yaman yang belum menyelanggarakan pemilu di negaranya, tapi menguatnya
pengaruh Islam sudah bisa dirasakan.
Revolusi
Timur Tengah terjadi bukan karena melemahnya kekuasaan dan kesaktian penguasa-penguasa
negeri tersebut. Revolusi terjadi karena efek domino kediktatoran mereka.
Revolusi Timur Tengah ini berbeda dengan revolusi Timur Tengah sebelumnya.
Revolusi kali ini berangkat dari akar rumput, bukan dari elite. Dulu, revolusi
hanya gawean elite yang ingin berkuasa, tanpa memperhatikan keadilan dan
keberpihakan kepada rakyat.
Gerakan
civil society yang selama puluhan tahun dikebiri, ternyata banyak mendapat
simpati publik secara luas. Gerakan inilah sebetulnya yang memproduk aktivis
dan militansi masyarakat Timur Tengah hingga melahirkan people power yang telah menumbangkan Ben Ali,
Husni Mubarak, dan sebentar lagi Muamar Qadafi, pemimpin Libya.
Tidak
bisa dimungkiri lagi, gerakan seperti Ikhwanul Muslimin, Hamas, Anshar Sunnah,
Hizbut Tahrir, dan Hizbullah merupakan embrio sekaligus aktor penting lahirnya
people power Timur Tengah. Keberadaan Ikhwanul Muslimin tidak bisa dipandang
sebelah mata. Sebagai suatu organisasi,
IM tidak lepas dari friksi internal, Hizbut Tahrir salah satunya. Ikhwanul
Muslimin dengan segenap produk organisasi turunannya merupakan representatif
gerakan sosial politik kaum Suni moderat, mengingat dalam friksi Suni lain,
sebut saja Anshar Tauhid, representatif Suni 'fundamentalis'.
Bukan
hanya Suni, gerakan politik Syiah pun mewarnai sosial politik Timur Tengah.
Siapa yang sanggup memukul mundur tentara Zionis Israel dari perbatasan
Israel-Lebanon kalau bukan Hizbullah pimpinan Hasan Nashrullah. Gerakan politik
Syiah di Timur Tengah berkembang pesat akhir-akhir ini di Lebanon, Irak,
Bahrain, dan tentunya Iran sebagai promotornya.
Sangat
sulit dikatakan bahwa gerakan tersebut dalam revolusi Timur Tengah sebagai
second contribution. Justru gerakan organisasi Islam politik di ataslah yang
sebetulnya pencetus lonceng revolusi. Karena itu, wajah geopolitik Timur Tengah
ke depan tidak lain adalah pertarungan gerakan politik Islam tersebut yang akan
mendominasi warna negara.
Namun,
ada yang paling penting dari sekadar pertarungan itu semua, yaitu sulitnya
Israel mengondisikan Timur Tengah ke depan, mengingat beberapa kurirnya sudah
tumbang, ditambah lagi gerakan Islam politik yang tampaknya akan menjadi
sutradaranya.
SUMBER :
·
Sihbudi, Riza,
Menyandera Timur Tengah, 2007, Jakarta: PT Mizan.
·
Priyatna, Haris, Kebiadaban Zionis Israel, 2008, Bandung: PT Mizan
Pustaka
·
Sihbudi, Riza, Indonesia dan Timur Tengah: Masalah dan Prospek, 1997,
Jakarta: Gema Insani Press.